banggakan kemegahan Mesjid

Di antara tanda akhir zaman adalah banyaknya manusia yang berbangga-bangga dengan masjid. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh baginda rasul ‘alaihis shalatu wassalam :

“Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia berbangga-bangga dengan masjid”. (HR. Ahmad dll serta di shahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

Para ulama menjelaskan bahwa makna berbangga-bangga adalah berbangga-bangga dengan kemegahan bentuk bangunan masjid.

Dan ternyata tidak salah bila zaman sekarang indikasinya sudah nampak. Tidak sedikit masjid yang dijadikan obyek wisata, orang ramai berduyun-duyun berkunjung ke sana. Ada masjid berkubah emas, ada masjid ini masjid itu dsb. Dan giliran tiba waktu shalat, satu shaf pun tidak penuh. Orang-orang hanya takjub terkagum-kagum dengan kemegahan dan keindahan arsitektur masjid. Tapi luput untuk memakmurkannya.

Maka tidak salah bila syaikh mengupamakan masjid seperti museum sebagai salah satu obyek wisata. Karena ketika itu memang di halaman parkir penuh dengan bus dan mobil pengunjung, mereka sibuk berkeliling sambil berfoto-foto, tapi ketika waktu shalat tiba mereka enyah entah kemana.

Memakmurkan Masjid tanda Keimanan

Orang kafir pasti benci dengan rumah Allah yang namanya masjid. Sebaliknya orang yang beriman tentu sangat senang dengan masjid. Rasa cinta mereka dengan masjid direalisasikan dengan sering berkunjung ke masjid untuk shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, mengikuti pengajian dan ibadah lainnya. Makanya Allah mengaitkan keimanan seseorang dengan memakmurkan masjid dalam firman-Nya :

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun)selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At-taubah : 18)

Imam Ibnu Katsir berkata : Maka Allah bersaksi akan keimanan orang-orang yang memakmurkan masjid. Lalu beliau menukil hadits dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah ‘Alaihis shalatu wassalam bersabda :

“Bila kalian melihat laki-laki yang sering terbiasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia orang yang beriman”. (HR. Ahmad)

Maka tanyakanlah kepada diri kita, sudahkah kita mendapatkan persaksian sebagai orang yang beriman karena sering ke masjid untuk memakmurkannya? Ataukah sebaliknya ?. Karena mafhumnya orang yang jarang atau bahkan sama sekali tidak menginjakkan kakinya di rumah Allah Ta’ala (masjid) maka dipertanyakan dimana keimanannya berada ?!
Imam Ibnu Katsir juga berkata : Setiap kata ‘asa (kata yang bermakna harapan) di dalam al-Qur’an maka pasti terjadi. Dan Muhammad bin Ishaq bin Yasar rahimahullah berkata: Harapan yang berasal dari Allah adalah haq (pasti terjadi).

Dan ayat di atas menyatakan bahwa orang yang memakmurkan masjid, beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, hanya takut kepada Allah adalah orang-orang yang diharapkan oleh Allah untuk mendapat hidayah (petunjuk). Dan harapan dari Allah pasti terjadi. Dan alangkah bahagianya mendapatkan hidayah Allah Ta’ala yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki. Lalu sudahkah kita mendapatklan hidayah Allah dengan melihat indikator di atas ?

Keutamaan Berjalan ke Masjid dan Shalat di Masjid

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :

Shalat seseorang dengan berjamaah lebih tinggi nilainya dua puluhan derajat daripada shalatnya di rumah atau tokonya. Bilamana seorang dari kamu berwudhu’ dan menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi ke masjid semata-mata untuk mengerjakan shalat, maka setiap langkah yang diayunkannya akan mengangkat derajatnya dan menghapus kesalahannya hingga ia memasuki masjid. Apabila ia berada di dalam masjid, ia terhitung mengerjakan shalat selama ia menunggu shalat ditegakkan. Para malaikat selalu mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya, para malaikat itu berkata : “Ya Allah curahkanlah rahmat-Mu kepadanya, Ya Allah berilah ia ampunan, Ya Allah terimalah taubatnya!”. Malaikat terus mendoakannya selama ia tidak menggangu dan tidak berhadats di dalamnya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata :

“Barangsiapa suka bertemu Allah dalam keadaan muslim, maka peliharalah shalat-shalat ini begitu terdengar adzan. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) dan petunjuk. Jika kalian mengerjakannya di rumah sebagaimana dikerjakan oleh orang-orang yang tertinggal (yaitu kaum munafik) sungguh kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) nabi kalian. Jika kalian meninggalkannya berarti kalian tersesat. Tidaklah seseorang itu bersuci dengan sebaik-baiknya, lalu berangkat ke salah satu masjid, melainkan Allah tulis baginya pada setiap langkahnya satu kebaikan, diangkat derajatnya, dan dihapus darinya satu kesalahan. Dan sungguh kita telah melihatnya. Tidak ada tertinggal kecuali seorang munafik yang jelas kemunafikannya. Sungguh salah seorang di antara kami ada yang dipapah oleh dua orang lalu didirikan dalam shaf (barisan shalat).

Beliau juga berkata :

“Sesungguhnya Rasulullah ‘alaihisshalatu wassalam telah mengajari kami sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) nabi, termasuk sunnah ajaran nabi adalah mengerjakan shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di dalamnya”. (HR. Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s