tata cara dan adab menyembelih

Menyembelih sendiri hewan kurban tentunya lebih utama dari pada mewakilkannya. Dan tentunya orang yang akan menyembelih harus tahu cara menyembelih hewan yang sesuai dengan syariah. Oleh karena itu kali ini akan sedikit mengupas tentang tata-cara penyembelihan dan adab-adabnya. Semoga bisa menambah pengetahuan kita.

Penyembelihan adalah syarat bagi halalnya daging hewan untuk dikonsumsi serta bagi pemanfaatan bagian tubuh hewan yang lainnya. Dengan kata lain, daging hewan dan bagian tubuh lainnya haram untuk dimakan/dimanfaatkan bila tidak melalui penyembelihan terlebih dahulu.
Allah berfirman :
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121)

Dan syarat penyembelihan ada yang berkaitan dengan hewan yang akan disembelih, penyembelih dan alat untuk menyembelih.

Syarat Hewan yang akan disembelih

Yaitu hewan tersebut masih dalam keadaan hidup ketika akan disembelih, bukan dalam keadaan bangkai (sudah mati).

Allah berfirman,
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai.” (QS. Al Baqarah: 173)

Syarat bagi Penyembelih

1- Berakal, baik laki-laki maupun perempuan, sudah baligh atau belum baligh asalkan sudah tamyiz. Sehingga dari sini, tidak sah penyembelihan yang dilakukan oleh orang gila dan anak kecil yang belum tamyiz. Begitu pula orang yang mabuk, sembelihannya juga tidak sah. Karena orang yang hilang akal niatnya tidak sah. Dan ini pendapatnya jumhur ulama : Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah dan satu pendapat dari kalangan Syafi’iyah.
2- Yang menyembelih adalah seorang muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nashrani). Oleh karena itu, tidak halal hasil sembelihan dari seorang penyembah berhala dan orang Majusi sebagaimana hal ini telah disepakati oleh para ulama. Karena selain muslim dan ahli kitab tidak murni mengucapkan nama Allah ketika menyembelih.
Sedangkan ahlul kitab masih dihalalkan sembelihan mereka karena Allah berfirman,
“Makanan (sembelihan) ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka.” (QS. Al Ma-idah: 5). Makna makanan ahlul kitab di sini adalah sembelihan mereka, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas (HR. al-Bukhari 9/636 secara mu’allaq).
Perhatian : sembelihan ahli kitab bisa halal selama diketahui kalau mereka tidak menyebut nama selain Allah. Jika diketahui mereka menyebut nama selain Allah ketika menyembelih, semisal mereka menyembelih atas nama Isa Al Masih, ‘Udzair atau berhala, maka pada saat ini sembelihan mereka menjadi tidak halal berdasarkan firman Allah ,

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Ma-idah: 3)
3- Menyebut nama Allah ketika menyembelih. Jika sengaja tidak menyebut nama Allah –padahal ia tidak bisu dan mampu mengucapkan-, maka hasil sembelihannya tidak boleh dimakan menurut pendapat mayoritas ulama. Sedangkan bagi yang lupa untuk menyebutnya atau dalam keadaan bisu, maka hasil sembelihannya boleh dimakan. Allah berfirman,
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121)
Mayoritas ulama mensyaratkan tasmiyah (menyebut nama Allah/membaca bismillah) ketika akan menyembelih, sedangkan Imam Syafi’i berpendapat kalau tasmiyah hukumnya sunnah (dianjurkan) dengan berdalil hadits Aisyah
“Ada sebuah kaum berkata pada Nabi , “Ada sekelompok orang yang mendatangi kami dengan hasil sembelihan. Kami tidak tahu apakah itu disebut nama Allah ataukah tidak. Nabi mengatakan, “Kalian hendaklah menyebut nama Allah dan makanlah daging tersebut.” ’Aisyah berkata bahwa mereka sebenarnya baru saja masuk Islam. (HR. Al-Bukhari 2057)
Namun pendapat mayoritas ulama yang menyaratkan wajib tasmiyah (basmalah) itulah yang lebih kuat dan lebih hati-hati. Sedangkan dalil yang disebutkan oleh Imam Asy Syafi’i adalah untuk sembelihan yang masih diragukan disebut nama Allah ataukah tidak. Maka untuk sembelihan semacam ini, sebelum dimakan, hendaklah disebut nama Allah terlebih dahulu.
4- Tidak disembelih atas nama selain Allah. Maksudnya di sini adalah mengagungkan selain Allah baik dengan mengeraskan suara atau tidak. Maka hasil sembelihan seperti ini diharamkan berdasarkan kesepakatan ulama. Dalilnya adalah firman Allah ,
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al Ma-idah: 3)

Syarat Alat Untuk Menyembelih

Ada dua syarat yang mesti dipenuhi yaitu:

1-Menggunakan alat pemotong, baik dari besi atau selainnya, baik tajam atau tumpul asalkan bisa memotong. Karena maksud dari menyembelih adalah memotong urat leher, kerongkongan, saluran pernafasan dan saluran darah.
2- Tidak menggunakan tulang dan kuku. Dalilnya adalah hadits Rofi’ bin Khodij,
“Segala sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah ketika menyembelihnya, silakan kalian makan, asalkan yang digunakan bukanlah gigi dan kuku. Aku akan memberitahukan pada kalian mengapa hal ini dilarang. Adapun gigi, ia termasuk tulang. Sedangkan kuku adalah alat penyembelihan yang dipakai penduduk Habasyah (Ethiopia).” (HR.al-Bukhari & Muslim)

Adab-Adab Menyembelih

1- Berbuat baik terhadap Hewan, seperti menajamkan pisau agar hewan lekas mati dan tidak merasakan sakit, serta tidak mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih.
Rasulullah bersabda,
“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih”.(HR.Muslim)

2- Membaringkan hewan di sisi sebelah kiri, memegang pisau dengan tangan kanan dan menahan kepala hewan ketika menyembelih.

“Rasulullah meminta diambilkan seekor kambing kibasy. Beliau berjalan dan berdiri serta melepas pandangannya di tengah orang banyak. Kemudian beliau dibawakan seekor kambing kibasy untuk beliau buat qurban. Beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, bawakan kepadaku pisau”. Beliau melanjutkan, “Asahlah pisau itu. Beliau melanjutkan, “Asahlah pisau itu dengan batu”. ‘Aisyah pun mengasahnya. Lalu beliau membaringkan kambing itu, kemudian beliau bersiap menyembelihnya, lalu mengucapkan, “Bismillah. Ya Allah, terimalah qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad”. Kemudian beliau menyembelihnya. (HR. Muslim)
Imam An Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaringkan kambing ketika akan disembelih dan tidak boleh disembelih dalam keadaan kambing berdiri atau berlutut, tetapi yang tepat adalah dalam keadaan berbaring. Cara seperti ini adalah perlakuan terbaik bagi kambing tersebut. Hadits-hadits yang ada pun menuntunkan demikian. Juga hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Juga berdasarkan kesepakatan ulama dan yang sering dipraktekan kaum muslimin bahwa hewan yang akan disembelih dibaringkan di sisi kirinya. Cara ini lebih mudah bagi orang yang akan menyembelih dalam mengambil pisau dengan tangan kanan dan menahan kepala hewan dengan tangan kiri.”
3- Meletakkan kaki di sisi leher hewan
Anas berkata :
“Nabi berqurban dengan dua ekor kambing kibasy putih. Aku melihat beliau menginjakkan kakinya di pangkal leher dua kambing itu. Lalu beliau membaca basmalah dan takbir, kemudian beliau menyembelih keduanya.”(HR.al-Bukhari 5558)
4- Menghadapkan hewan ke arah kiblat
Sebagaimana perbuatan nabi ketika menyembelih, menghadapkan hewan ke arah kiblat. (HR. Abu dawud, Malik ).
Syaikh Abu Malik berkata : menghadapkan hewan ke arah kiblat bukanlah syarat dalam penyembelihan. Jika memang hal ini adalah syarat, tentu Allah akan menjelaskannya. Namun hal ini hanyalah mustahab (dianjurkan).
5- Mengucapkan tasmiyah (basmalah) dan takbir
Ketika akan menyembelih disyari’atkan membaca “Bismillaahi wallaahu akbar”,
Sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik di atas. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman dan Ar Rahiim) hukumnya wajib sebagaimana telah dijelaskan di muka. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan:
1.hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) atau
2.hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).” atau
3.Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban/orang yang berkurban)”

Catatan :

1- Khusus untuk unta maka penyembelihannya dengan cara an-nahr ( ditusuk bagian leher bawah), dengan posisi tiga kaki berdiri dan kaki kiri bagian depan diikat.
Allah ta’ala berfirman,
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kamu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat)… (QS. AL-Hajj : 36)
Dalam hadits Anas bin Malik : …dan Nabi n menyembelih dengan tangannya 7 onta dalam keadaan berdiri”. (HR. Al-Bukhari).
2. Bila karena suatu hal hewan tidak bisa disembelih, maka boleh dengan menembaknya.dan ini pendapatnya jumhur ulama. Berdasarkan hadits Rabi’ bin Khadij berkata : ‘Dulu kami pernah bersafar bersama Rasulullah n, tiba-tiba ada seekor onta kabur milik suatu kaum, sedangkan mereka tidak punya kuda untuk mengejarnya, lalu ada seorang pria yang memanahnya hingga dapat menghentikannya. Maka Rasulullah bersabda: Sesungguhnya binatang ternak itu memiliki sifat jelek seperti sifat binatang buas, maka apa yang dilakukannya ini, maka lakukanlah dengan seperti ini”. (HR. Al-Bukhari & Muslim)
3.Bila ternyata di dalam perut hewan yang telah disembelih ada janinnya, maka bila janinnya ini mati, hukumnya halal untuk dimakan. Karena penyembelihan kepada induknya juga mencakup penyembelihan janin. Dan ini pendapat jumhur ulama kecuali Imam Abu Hanifah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id : Aku bertanya kepada Rasulullah tentang hukum janin? Maka beliau menjawab : Makanlah jika kalian suka”. Dan dalam riwayat yang lain, aku berkata, ‘wahai Rasulullah, kami menyembelih onta, sapi dan kambing dan kami mendapati di dalam perutnya ada janinnya, apakah kami harus menbuangnya ataukah kami boleh memakannya? Beliau menjawab : “Makanlah jika kalian suka, karena penyembelihannya adalah ikut penyembelihan induknya”. (Shahih Riwayat Abu Daud 2827, Tirmidzi 1476, Ibnu Majah 3199)

Tetapi bila janin tersebut masih hidup, maka harus menyembelihnya dulu sebelum memakannya.

Wallahu A’lam. Washallahu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Disusun oleh Abu Nakhla di Maktabah al-Hidayah Siwalan Pekalongan

Referensi : Shahih Fiqh Sunnah Juz 2 hal.357-366 karya Syaikh Abu malik Kamal bin Sayyid Salim, cet. Maktabah Taufiqiyyah Mesir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s