tidak ikut sholat berjamaah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :

“Barangsiapa mendengar seruan adzan sedang tidak ada udzur yang menghalanginya mengikuti shalat berjamaah maka tidak sah shalat yang dilakukannya sendirian”. Mereka berkata : “Apa itu udzur ? Rasul menjawab : “rasa takut (tidak aman) atau sakit”. (HR. Abu Dawud dalam sunannya I/373 no. 551)

Masih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam bersabda :

“Barangsiapa mendengar seruan adzan namun ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali bila ada udzur”. (HR. Al-Hakim dan dinyatakan shahih oleh beliau I/245)

Ibnu Abbas juga pernah ditanya tentang seorang yang rajin berpuasa di siang hari dan shalat tahajjud di malam hari namun ia tidak pernah menghadiri shalat jum’at dan shalat berjamaah, beliau menjawab :’Ia berada dalam neraka”. (Riwayat Imam Tirmidzi dalam jami’nya I/423 dan 424, hadits no.218, dalam bab shalat)

Rasulullah ‘alaihis shalatu wassalam juga bersabda :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat atas kaum munafiq adalah shalat isya’ dan shubuh, sekiranya mereka mengetahui keutamaannya niscaya mereka akan menghadirinya meskipun dengan merangkak. Sungguh betapa ingin rasanya aku memerintahkan orang-orang untuk shalat kemudian aku memerintahkan seseorang untuk mengimami mereka. Lalu aku pergi bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa kayu bakar menjumpai orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api”. (HR. Muslim I/452 no.651)

Hukum Shalat Berjamaah

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Tapi (Allahu A’lam) pendapat yang rajih (kuat) adalah hukumnya Fardhu ‘Ain dan bukan termasuk syarat sah shalat.

Maknanya orang yang meninggalkan shalat berjamaah (tanpa udzur) dia telah berbuat dosa karena telah meninggalkan kewajiban, tapi shalatnya sah karena berjamaah bukan termasuk syarat sah shalat.
Inilah pendapat sejumlah sahabat nabi dan para ulama, di antaranya Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari, dari kalangan ulama syafi’iyyah seperti Atha’ bin Abi Rabbah, Al-Auzaa’i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Ini juga pendapat mayoritas ulama Hanafi dan ulama Hambali.

Dalil-dalil mereka :

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (QS. Al_Baqarah : 43)

Ayat di atas berupa perintah dan hukum asal sebuah perintah adalah wajib. Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ juga bermakna perintah untuk mendirikan shalat bersama orang banyak ( yakni berjamaah).

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan ) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera”. (QS. Al-Qalam : 42-43)

Ibnul Qayyim berkata :
Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas sebagai berikut :

Allah membalas perbuatan mereka pada hari kiamat dengan membuat mereka tidak mampu bersujud, karena sewaktu diseru untuk sujud di dunia mereka enggan menyambutnya ! Menyambut seruan itu maksudnya adalah mendatangi masjid untuk menghadiri shalat berjamaah, bukan mengerjakan sendirian di rumah! Begitulah Rasulullah menafsirkannya, yakni menyambut seruan. Sejumlah ulama salaf menjelaskan makna firman Allah :
Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera”. (QS. Al-Qalam : 43)
Seruan yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucdapan muadzin : “Hayya ‘alas shalah, Hayya ‘alal falah”. Kata Hayya artinya ‘marilah dan sambutlah’. Menyambut seruan adzan ini artinya perintah menghadiri shalat berjamaah, dan orang-orang yang tertinggal mengerjakannya berjamaah belum terhitung menyambut seruan”. (Kitabus shalah oleh Ibnul Qayyim)

Imam Syafi’i juga berkata :

“Mengenai shalat berjamaah, saya tidak memberi dispensasi untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur”.

“Seorang pria buta menemui rasulullah lalu berkata : Ya Rasulullah tidak ada orang yang menuntun saya ke masjid. Ia minta keringanan untukshalat di rumah. Rasul mengizinkannya. Ketika hendak pulang Rasul memanggil, “Apa kamu mendengar adzan?. “Ya”. Jawabnya. “Kalau begitu datangilah seruannya!, Perintah Rasulullah. (HR.Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s