neraka untuk anak durhaka

إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا [21]لِلطَّاغِينَ مَآبًا[22] لابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا [23] لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلا شَرَابًا [24] إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا [25]جَزَاءً وِفَاقًا [26]إِنَّهُمْ كَانُوا لا يَرْجُونَ حِسَابًا [27] وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا [28]وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا [29]فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلا عَذَابًا [30]

Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, [21] lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka, [22] mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, [23] mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, [24] selain air yang mendidih dan nanah, [25] sebagai pembalasan yang setimpal. [26] Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, [27] dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya, [28] dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. [29] Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. [30] {QS An – Naba : 20 – 30}

Firman Allah Ta’ala “Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, [21]” berbeda pendapat para mufasir dalam hal ini, bahwa di neraka jahannam ada tempat pengintai yang dari temoat itu para penjaga itu mengintai dan mengawasi mereka, namun sebagian mufasir bahwa “tempat pengintai” adalah sebagai temapat yang sengaja disediakan bagi para pembangkang, pendurhaka dan para penentang musuh Allah, dan neraka jahannam itu “menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang durhaka, [22].”

Lafazh “Thaaghiin” diartikan orang-orang yang durhaka, meskipun bisa memiliki arti yang lebih jauh dari itu, sebab kata thaaghiin adalah satu sumber dengan thaaghut, yaitu orang atau sesuatu yang di agung-agungkan sehingga membuatnya sombong dan berlaku sesuka hati. Oleh karena itu dapat kita fahami bahwa orang-orang yang Thaaghiin” adalah orang-orang yang akan masuk kedalam neraka jahannam karena hanya memperturutkan kemauannya sendiri, tidak mau menuruti aturan Al Qur’an dan As Sunnah, dan memakai peraturan Allah dan peraturan Rasul-Nya. Oleh karena itu “mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, [23]“

Dalam ayat 60 Surah al Kahfi ada di deskripsikan oleh Allah sebagai berikut:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun“.

Lafazh “huqub” dalam firman Allah Ta’ala diatas (18:60) diartikan bertahun-tahun, yang menurut pengertian orang arab bahawa “huqub” adalah sekitar 80 tahun. Sedangkan dalam ayat yang sedang kita bicarakan (an Naba : 23) terdapat terdapat lafazh yang sama dalam bentuk jamak dari huquban yakni “أَحْقَابًا” /ahqoban” maka artinya bahwa orang-orang yang durhaka itu akan tinggal di dalam neraka jahanam itu berkali-kali delapan puluh (80) tahun.

Menurut Qatadah, ar Rabi’ bin Anas, bahwa pendapat yang benar adalah mereka tinggal disana tidak-ada henti-hentinya. Oleh karena itu yang di maksud oleh ahqab adalah masa yang tidak mempunyai batas hitungannya melainkan hanyalah kekkekalan dalam neraka.

Sebenarnya di cantumkannya lafazh ahqab dalam ayat ini bukanlah untuk menetapkan jenis dan bilangannya, akan tetapi merupakan kiasan tentang kekekalan yang abadi bagi orang-orang yang membangkang, kufur dan durhaka terhadap ayat-ayat Allah dan hari perhitungan. Cobalah kita perhatikan suasana-suasana yang akan dialami oleh orang-orang kafir didalam neraka bahwa mereka tidak akan merasakan mati dan hidup, sebagaimana Allah berfirman:

Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasakanlah azab yang membakar ini”. [al Hajj : 20 – 22]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (an Nisa : 56)

Kemudian Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya : “mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, [24] , yaitu didalam neraka mereka tidak akan merasakan kesejukan hati dan air minum yang segar untuk memberikan kekuatan badan mereka, itulah sebabnya Allah berfirman

إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا [25]

Artinya “Selain air yang mendidih dan nanah,” [25], yaitu adapun yang dimaksud dengan { حَمِيمًا} adalah panas yang telah mencapai puncaknya, sedangkan {غَسَّاقًا} kumpulan keringat, nanah, air mata, dan luka-luka penghuni neraka, yang mereka tidak akan sanggup untuk menahan bau yang tiada habismya.

Semoga Allah memberikan keselamatan rahmat-Nya kepada kita semua dari hal diatas,

Kemudian Allah berfirman “sebagai pembalasan yang setimpal. [26] , yaitu sebagai siksaan yang menimpa mereka ia adalah hasil perbuatan mereka didunia yang selalku durhaka terhadap ketentuan dan peraturan Allah yang di bawa oleh Rasul-Nya. Orang-orang seperti ini tidak merasa takut akan adanya hari perhitungan karena sifat thaaghiin nya sebagaimana dijelaskan pada pembahasan awal, sebagaimana Allah berfirman “Sesungguhnya mereka tidak takut kepada hisab, [27] , yaitu mereka tidak sadar bahwa kehidupan setelah matinya adakan ada hari perhitungan atas semua perbuatannya di dunia.

Firman Allah, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya, [28] , yaitu mereka mereka orang-orang yang thaaghiin itu selalu mendustakan hujjah-hujah dan dalil-dalil Allah terhadap makhluk-Nya, yang sengaja Allah turunkan melalui para utusan-Nya, namun mereka menyambutnya dengan mendustakannya dan menentangnya.

Maka sebenarnya Allah mencatat apa yang mereka perbuta, sebagaimana firman-Nya “dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. [29], yaitu bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan hamba-Nya tanpa terkecuali dan ditulisnya setiap perbuatan itu dan kelak akan di balas dengan balasan yang berhak mereka terima. “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. [30], yaitu mereka akan menerima azab itu tanpa dikurangi sedikitpun bahkan berulang-ulang.”

Demikian yang bisa saya sampaikan atas firman Allah Surah An Naba : 21 – 30, semoga bisa menjadi gambaran bagi kita semua bagaimana orang-orang durhaka yang menentang ayat-ayat Allah dan tidak mengikuti peraturan Allah akan di lemparkan ke neraka.

Semoga sejak sekarang kita memikirkan bagaimana caranya agar tidak mencicipi api neraka walau sesaat, karena Rasulullah bersabda :

Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat itu adalah seseorang yang di bagian bawah kedua kakinya diletakkan dua buah bara api yang dengannya itu dapat mendidihlah otaknya. Orang itu tidak mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih siksanya daripada dirinya sendiri, padahal orang itulah yang teringan sekali siksanya.” (Muttafaq ‘alaih, Riyadhus Shalihin dalam Bab 50 – Takut Kepada Allah Ta’ala)

Sikap orang-orang yang kafir dan Mu’min ketika disampaikan kepadanya tentang kabar berita surga dan neraka

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Dari Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: Barang siapa yang menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah akan menyukai pertemuan dengannya. Dan barang siapa yang tidak menyukai pertemuan dengan Allah, maka Allah tidak akan menyukai pertemuan dengannya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan kebencian terhadap kematian karena semua kita membenci kematian? Beliau menjawab: Bukan begitu, tetapi seorang mukmin apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridaan dan surga-Nya, maka dia akan senang bertemu dengan Allah dan Allah akan senang bertemu dengannya. Dan sesungguhnya orang kafir/ingkar apabila diberitahukan tentang siksaan serta kemurkaan Allah, maka dia akan membenci pertemuan dengan Allah sehingga Allah pun akan membenci pertemuan dengannya. (Shahih Muslim No.4845)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s